Senin, 09 Juni 2014





 
           






IDENTIFIKASI JENIS-JENIS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI TANJUNG TIRAM DESA TANJUNG TIRAM KECAMATAN MORAMO UTARA KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA.
Proposal Penelitian
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Tugas Final Mata Kuliah Metode Penelitian


                                                           OLEH :    
DAFID PRATAMA
F1D1 12 002



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014



I.   PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
  Negara Indonesia adalah negara maritim terluas di dunia. Lebih dari dua pertiga dari luas negara Indonesia. Daerah perairan atau lahan basah meliputi kawasan laut (marin), kawasan muara sungai (estuaria), kawasan sungai (riverin), kawasan danau (lakustrin), kawasan rawa (palustrin), hingga kawasan lahan basah buatan. Semua badan air itu merupakan habitat dari berbagai macam biota air yang diantaranya memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Adawiyah, 2010).
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi yang kuat antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan saling mempengaruhi. Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-organisme yang menempatinya sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan energi yang dimanfaatkannya ke dalam lingkungan. Suatu daur energi memberikan contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropis yang berbeda dengan demikian terjadi proses produksi. Hirarki proses produksi membentuk sebuah rantai yang dikenal dengan rantai makanan (Notji, 2008).
Organisme di dalam air sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuk kehidupannya atau kebiasaan hidupnya. Salah satu komponen biotik yang menentukan kehidupan di laut yaitu plankton. Plankton adalah mikroorganisme yang melayang-layang di kolom perairan. Plankton meliputi dua kelompok besar yaitu fitoplankton yang merupakan plankton yang bersifat tumbuhan, serta zooplankton yang merupakan plankton yang bersifat hewan. Fitoplankton mampu berfotosintesis dan berperan sebagai produsen di lingkungan perairan, sedangkan zooplankton berperan sebagai konsumen pertama yang menghubungkan fitoplankton sebagai produsen dengan organisme yang lebih tinggi jenjang trofiknya. Zooplankton juga berperan sebagai bioindikator perubahan kondisi lingkungan. Keanekaragaman zooplankton yang tinggi menyebabkan rantai makanan di suatu perairan semakin kompleks. Dilihat dari perannya sebagai mediator transfer energi, maka kekayaan dan kelimpahan zooplankton dapat menggambarkan kesuburan suatu perairan dalam kaitannya dengan pemanfaatan potensi sumberdaya hayati laut di perairan tersebut.
Plankton menurut Odum (1996) adalah organisme mengapung yang pergerakannya kira-kira tergantung pada arus. Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu fitoplankton yang disebut plankton nabati dan zooplankton yang disebut plankton hewani. Zooplankton merupakan organisme yang amat banyak terdapat di seluruh massa air, mulai dari permukaan sampai di kedalaman dimana intensitas cahaya masih memungkinkan untuk fotosintesis (Nontji, 1987). 
Menurut Fachrul (2006) mengatakan zooplankton menempati posisi penting dalam rantai makanan dan jaring-jaring kehidupan di perairan. Kemelimpahan zooplankton akan menentukan kesuburan suatu perairan oleh karena itu, dengan mengetahui keadaan plankton (zooplankton termasuk di dalamnya) di suatu daerah perairan, maka akan diketahui kualitas perairan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengkaji Identifikasi Jenis-Jenis Zooplankton Di Perairan Pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara”.
B.  Rumusan Masalah
Masalah yang dikaji pada penelitian ini adalah bagaimana mengidentifikasi jenis zooplankton di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara ?
C.  Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis zooplankton di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
D.  Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai jenis-jenis zooplankton di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.




II.   TINJAUAN PUSTAKA
A.  Defenisi Zooplankton
Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya is sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik (Odum, 1996).
Ukurannya yang paling umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok yang paling umum ditemui antara lain kopepod (copepod),  eufausid, misid (mysid), amfipod (amphipod), kaetognat (chaetognath).Zooplankton dapat dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria di depan muara sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke perairan kutub.  (Amelia, dkk., 2012).
Menurut Nybakken (1992), berdasarkan bentuk hidupnya plankton dibagi menjadi dua golongan yaitu fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani). Fitoplankton mempunyai sifat autotrof yang mampu merubah bahan anorganik menjadi bahan organik dan penghasil oksigen yang sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk hidup yang lebih tinggi tingkatannya . Sedangkan zooplankton tidak dapat memproduksi zat-zat organik dari zat-zat anorganik. Zooplankton bersifat herbivore dan karnivor. Zooplankton yang bersifat herbivor akan memakan fitoplankton, sedangkan zooplankton yang bersifat karnivor memakan zooplankton herbivor.
B.  Klasifikasi Zooplankton
Berdasarkan daur hidupnya zooplankton dibagi menjadi 3 kelompok menurut (Nontji, 2008) yaitu: 
a.    Holoplankton
Plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Contohnya Kopepoda, Amfipoda, dan lain-lain.
b.    Meroplankton
Plankton dari golongan ini menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja, beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton. Contohnya kerang dan karang.
c.     Tikoplankton
Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerakan air ia bisa terangkat lepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton. Contohnya kumasea (Nontji, 2008).
Berdasarkan siklus hidupnya plankton dapat dibagi menjadi dua yaitu holoplankton dan meroplankton. Holoplankton adalah plankton yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik, sedangkan meroplankton adalah plankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya yang bersifat planktonik dan terdiri dari berbagai larva hewan laut dan pada stadium dewasa hidup sebagai benthos atau nekton (Susilowati, dkk., 2001).
D. Reproduksi dan Siklus Hidup Zooplankton
Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam fase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Campbell, 2002).
Nybaken (1992) menyatakan pada estuaria, sekitar 50-60 % persen produksi bersih fitoplankton dimakan oleh zooplankton. Pada dasarnya hampir semua fauna akuatik muda yang terdapat pada ekosistem mangrove, dikategorikan sebagai zooplankton. Usia muda dari fauna akuatik (larva) sebagian besar berada di ekosistem mangrove. Dan larva dikategorikan sebagai zooplankton, karena termasuk fauna yang pergerakannya masih dipengaruhi oleh pergerakan air, sebagaimana pengertian dari plankton itu sendiri. Oleh karena itu juga Tait (1987) mengkategorikan Gastropoda, Bivalva, telur ikan, dan larva ikan kedalam zooplankton.
Reproduksi antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Kimball, 2002)
E. Komposisi dan Kelimpahan Zooplankton
Komposisi jenis zooplankton sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda. Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera, serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992). 
Beberapa waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu. Selain itu terdapat pula teori yang menerangkan terjadinya hubungan terbalik antara zooplankton dan fitoplankton, teori ini dikenal dengan “Theory of Grazing” yaitu dimakannya fitoplankton oleh zooplankton yang dikemukakan oleh Harvey et. al (1935). Bila populasi zooplankton meningkat, pemangsaan fitoplankton akan sedemikian cepatnya sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri, jika jumlah zooplankton menurun dan menjadi sedikit maka hal ini memberi kesempatan kepada fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan konsentrasi yang tinggi (Evanulya, 2010).
F. Peran Zooplankton
Dalam hubungannya dengan rantai makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis , oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan perairan (Arinardi, et all 1997). Dalam rantai makanan, fitoplankton dimakan oleh hewan herbivora yang merupakan konsumen pertama. Konsumen pertama ini pada umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa pula oleh oleh hewan karnivora yang lebih besar sebagai konsumen kedua. Demikianlah seterusnya rangkaian karnivora memangsa karnivora lain (Nontji, 1987). Sebagai herbivora primer di ekosistem perairan, peranan zooplankton sangat penting artinya karena dapat mengontrol kelimpahan fitoplankton. Dengan demikian zooplankton berperan sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil (Nybakken, 1992). Struktur komunitas dan pola penyebaran zooplankton dapat dijadikan sebagai salah satu indikator biologi dalam menentukan perubahan kondisi perairan.
Campbell (2002) menjelaskan bahwa zooplankton yang meliputi semua hewan yang umumnya renik adalah bersifat herbivora yang memakan fitoplankton. Hampir seluruh zooplankton sangat tergantung pada fitoplankton dan pada trophic level zooplankton menempati tingkat kedua setelah fitoplankton . Dalam rantai makanan, fitoplankton dimakan oleh hewan herbivora yang merupakan konsumen pertama. Konsumen pertama ini pada umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa pula oleh oleh hewan karnivora yang lebih besar sebagai konsumen kedua. Demikianlah seterusnya rangkaian karnivora memangsa karnivora lain (Nontji, 1987).
Sebagai herbivora primer di ekosistem perairan, peranan zooplankton sangat penting artinya karena dapat mengontrol kelimpahan fitoplankton. Dengan demikian zooplankton berperan sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil (Nybakken, 1992). Struktur komunitas dan pola penyebaran zooplankton dapat dijadikan sebagai salah satu indikator biologi dalam menentukan perubahan kondisi perairan.













III.   METODE PENELITIAN
A.      Waktu dan Tempat Penelitian
          Pengambilan sampel berlokasi di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara dilakukan pada hari Minggu 4 Mei 2014 dan identifikasi zooplankton dilakukan pada hari Kamis 8 Mei 2014 di Laboratorium Unit Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu  Pengetahuan  Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B.       Alat dan Bahan
1.      Alat
Alat yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang digunakan pada penelitian Identifikasi Jenis Plankton di perairan pantai Tanjung Tiram.
No.
Nama Alat
Kegunaan
1.
Botol roll film
Sebagai wadah tempat menyimpan sampel
2.
Label
Untuk menandai sampel
3.
Plankton net
Untuk menyaring air laut
4.
Ember
Sebagai wadah untuk mengambil air
5.
Kaca objek
Sebagai media pengamatan
6.
Kaca penutup
Sebagai penutup sampel pengamatan
7.
Pipet tetes
Untuk mengambil sampel air
8.
Kamera
Untuk mengambil gambar
9.
Tissue
Untuk membersihkan kaca objek dan penutup




2.      Bahan
        Bahan yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum Identifikasi Jenis Plankton di perairan pantai Tanjung Tiram.
No.
Nama Alat
Kegunaan
1.
Plankton
Sebagai bahan pengamatan
2.
Lugol
Untuk mematikan plankton
3.
Aquades
Untuk membersihkan kaca objek dan penutup

C.  Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif eksploratif, dimana metode deskriptif adalah metode yang berusaha membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat terhadap kejadian atau tentang populasi tertentu pada wilayah dimana salah satu cirinya adalah membuat perbandingan dan evaluasi.
Metode deskriptif digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan struktur komunitas zooplankton pada perairan Tanjung Tiram. Sementara itu metode eksploratif adalah metode yang bertujuan untuk menggali secara luas tentang sebab atau hal yang mempengaruhi terjadinya sesuatu . Metode ini dipakai karena penelitian dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis zooplankton di perairan Tanjung Tiram terhadap ketersediaan organisme lain. Data yang didapatkan berupa data jumlah dan genus zooplankton pada stasiun yang berbeda. Data yang didapat dideskripsikan dalam bentuk tabel dan grafik sedangkan analisa data yang dilakukan meliputi Kelimpahan.


a)    Metode Penentuan Lokasi Penelitian
b)      Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi sampling adalah purposive sampling method  yaitu mengambil beberapa lokasi dengan pertimbangan  keadaan  lingkungan yang ada di lapangan dengan kelompok kunci yang mewakili keseluruhan). Penentuan lokasi sampling  menggunakan metode ini karena penelitian zooplankton dilakukan untuk mengetahui kelimpahan zooplankton di perairan Tanjung tiram, sehingga lokasi penelitian dibagi menjadi lima stasiun ( Stasiun I, Stasiun II, Stasiun III, Stasiun IV, Stasiun V ) dengan masing-masing stasiun yang dirancang menggunakan sistem informasi geografis utara stasiun I , timur stasiun II, dan selatan stasiun III, barat stasiun IV, dan tengah Stasiun V dengan masing-masing stasiun memiliki tiga titik sampel.
b). Metode Pengumpulan Data.
Metode pengumpulan data zooplankton dalam penelitian ini menggunakan sample survey method, yaitu metoda pengumpulan data yang mencatat sebagian kecil populasi atau sample namun hasilnya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian.
Pada tahap pengambilan sampel digunakan pengambilan air sampel yang diambil sebanyak 50 liter menggunakan bak plastik yang memiliki volume 10 liter sebanyak 5 kali. Air disaring menggunakan plankton net dengan ukuran 100 µm dan akan ditampung ke dalam wadah penampung yang memiliki volume 1 liter. Hasil penyaringan diambil 200 ml untuk dijadikan sampel dan diberi formalin 4% sebanyak 1 ml.
c)    Pengambilan Contoh Zooplankton
Waktu pengambilan sampel dilakukan satu kali pada masing-masing stasiun yaitu pada siang hari (dengan pertimbangan untuk mewakili kondisi normal peraiaran pada saat proses fotosintesis terjadi). Sampel zooplankton diambil dengan cara menggunakan bak plastik sebagai media sementara guna menampung air sampel zooplanktoon sehingga mempermudah pengambilan sampel zooplankton dengan menggunakan planktonnet yakni tahap pengambilan sampel dengan menggunakan bak plastik dilakukan pengambilan air sampel secara horizontal ketika berada di atas kapal laut dan kemudian setelah sampel yang telah ditampung dalam bak plastik di saring  menggunakan planktonnet dengan prosedur penyaringan menggunakan planktonnet  untuk mengambil sampe zooplankton sebanyak tiga kali pada masing-masing stasiun guna untuk mendapatkan sampel zooplankton yang ingin di identifikasi. Selanjutnya sampel yang telah diambil dimasukan kedalam botol sampel lalu diberi larutan formalin 4% yang di encerkan dari formalin dengan konsentari 40% untuk mengawetkan sampel zooplankton.
d.  Identifikasi Jenis Zooplankton
Identifikasi di lakukan di laboratorium Jurusan Perikanan Universitas Nusa Cendana Kupang. Tahap identifikasi sampel dilakukan dengan  bantuan  mikroskop perbesaran 100x dan sedwick rafter yang mempunyai panjang 50 mm, lebar 20 mm, dan tinggi 10 mm sehingga volumenya 1000 mm3..
Sampel  zooplankton diambil dengan  menggunakan pipet sebanyak 1 ml .Masing-masing sampel setiap stasiun diambil 3 kali untuk diamati. Sampel kemudian diamati jumlah dan diidentifikasi genusnya. Dengan segala keterbatasan yang ada dan tingkat ketelitian alat maka identifikasi zooplankton  hanya dilakukan sampai genus.
Identifikasi zooplankton dilakukan dengan mengacu pada Sachlan (1982),  Newell dan  Newell (1977), Hutabarat dan Evans (1986). Nilai kelimpahan zooplankton dihitung berdasarkan odum (1998). Selanjutnya menurut Yamaji (1976), Hutabarat dan Evans (1988), untuk mengidentifikasi zooplankton juga dilakukan analisis menggunakan mikroskop yang meliputi identifikasi dan penghitungan kelimpahan zooplankton yang dinyatakan dalam satuan ind/m3.









IV.   HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil Penelitian
Hasil penelitian Identifikasi Jenis Zooplankton di Perairan Pantai Tanjung Tiram dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil penelitian Keanekaragaman Jenis Zooplankton di Perairan Pantai Tanjung Tiram
No
Gambar pada Stasiun I
Klasifikasi
1
pros-alata
Kingdom  : Protista
Phylum     : Bacillariophyta
Classis      : Pennatophyceae
Ordo         : Araphnalis
Familia     : Fraggilariaceae
Genus       : Synedra
Species     : Synedra ulna
2
hanzchia-valve
Kingdom  : Protista
Phylum     : Chrysophyta
Classis      : Bacillarioceae
Ordo         : Centraless
Familia     : Nitzchiaceae
Genus       : Melosira  
Species     : Melosira granulata
3
fa-melosira-nu
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Familia     : Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Species     : Nitzschia valve
4

falmouth-synedr
Kingdom  : Plantae
Phylum     : Bacillariophyta
Classis      : Bacillarophyceae
Ordo         : Centrales
Familia     : Rhizisoleniaceae
Genus       : Rhizosolenia
Species     : Rhizosolenia alata

No
Gambar pada Stasiun II
Klasifikasi
1
nitzschi-long
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Familia     : Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Species     : Nitzschia long

2
staurastrum-paradoxum
Kingdom   : Animalia
Phylum      : Charophyta
Classis : Charophyceae
Ordo    : Zygnematales
Familia      : Desmidiaceae
Genus  : Staurastrum
Specieskkk:Staurastrum   paradoxum
No
Gambar pada Stasiun III
Klasifikasi
1
ch-decipiens
Kingdom : Chromalveolata
Phylum    : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Centrales
Familia     : Biddulphiineae
Genus       : Chaetoceros
Species  : Chaetocerosdecipiens
2
nitz-fasciculata
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Familia     : Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Species     : Nitzschia fasciculata
No
Gambar pada Stasiun IV
Klasifikasi
1

hanzchia-valve
Kingdom  : Protista
Phylum     : Chrysophyta
Classis      : Bacillarioceae
Ordo         : Centraless
Familia     : Nitzchiaceae
Genus       : Melosira  
Species     : Melosira granulata

2
nitzschi-long
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Familia     : Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Species     : Nitzschia long

No
Gambar pada Stasiun V
Klasifikasi
1
ceratium-falcatum
Kingdom  : Protista
Phylum     : Bcillariophyta
Classis      : Pennatophyceae
Ordo         : Araphnalis
Familia     : Fraggilariaceae
Genus       : Synedra
Species     : Synedra tenera

2
chaetoceros
Kingdom  : Protozoa
Phylum     : Myzozoa
Classis      : Dinophyceae
Ordo         : Gonyaulacales
Familia     : Ceratiaceae
Genus       : Ceratium
Species     : Ceratium falcatum

3
naiculata maginata
Kingdom : Chromalveolata
Phylum    : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Centrales
Familia     : Biddulphiineae
Genus       : Chaetoceros
Species     : Chaetocerossp.

4
nitzchia-rectilonga
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Naviculales
Familia     : Naviculaceae
Genus       : Navicula
Species     : Naviculata maginata

5
synedra tenera
Kingdom  : Chromalveolata
Phylum     : Heterokontophyta
Classis      : Bacillariophyceae
Ordo         : Bacillariales
Familia     : Bacillariaceae
Genus       : Nitzschia
Species     : Nitzschia rectilonga


B. Pembahasan
Plankton adalah organisme mikro yang keberadaannya dalam lingkungan perairan sangat penting karena sebagai produser primer, plankton  akan menghasilkan karbohidrat yang menjadi makanan  konsumen primer dan menjadi dasar rantai makanan. Aktivitas fotosintesis yang dilakukan plankton akan menghasilkan karbohidrat dan oksigen, sehingga dapat meningkatkan kelarutan oksigen dalam perairan. Plankton sebagai penyumbang terbesar kelarutan oksigen pada lingkungan perairan keberadaannya sangat penting untuk menunjang kehidupan dalam air.
Plankton adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam air dan mempunyai kemampuan renang yang sangat lemah sehingga pergerakannya selalu dipengaruhi oleh gerakkan massa air.  Plankton dapat dibedakan dalam dua golongan besar yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton (Plankton nabati) merupakan tumbuhan yang amat banyak ditemukan di semua perairan, tetapi karena ukurannya mikroskopis yang amat sukar dilihat kehadirannya.  Zooplankton (Plankton hewani) merupakan jenis plankton yang terdiri sangat banyak jenis hewan.  Ukurannya lebih besar dari fitoplankton.Ceratium falcatum,Chaetoceros decipiens, Nitzschia fasciculata
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil mampu melaksanakan reaksi fotosintesis di mana air dan karbon diokasida dengan adanya sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti karbohidrat. Karena kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik maka fitoplankton disebut sebagai produsen primer (primary producer). Dalam rantai makanan (food chain), fitoplankton akan dimakan oleh hewan herbivor yang merupakan produsen sekunder (secondary producer).
Penelitian Identifikasi Plankton yang dilaksanakan di Perairan Pantai Tanjung Tiram, dilakukan pengambilan sampel di tiga titik berbeda, yaitu titik satu, titik dua dan titik tiga dengan kedalaman dan tingkat kecerahan yang berbeda.Hasil pengamatan diperoleh kelimpahan jenis plankton pada titik satu diantaranya Synedra ulna, Melosira granulata, Nitzschia valve, Rhizosolenia alata. Titik dua diperoleh  Nitzschia long dan Staurastrum paradoxum, serta pada titik tiga diperoleh Ceratium falcatum,Chaetoceros decipiens, Nitzschia fasciculata, titik empat diperoleh Melosira granulata dan Nitzschia long, titik lima diperoleh Synedra tenera, Synedra tenera, Chaetocerossp., Naviculata maginata dan Nitzschia rectilonga.
Berbagai macam faktor kimia dan fisika dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup dan produktifitas tumbuhan teresterial. Faktor-faktor penting yang sangat kritis bagi tumbuhan teresterial adalah cahaya, suhu, kadar zat-zat hara, tanah dan air. Suatu tumbuhan yang hidup tersuspensi dalam air, baik air maupun tanah tidak penting artinya. Kisaran suhu di biosfer teresterial dapat mencapai suatu tingkat yang dapat memproduksi tumbuhan. Sebaiknya kisaran suhu dalam lingkungan hidup bahari selalu berlangsung secara bertahap dari sifat-sifat fisik air.
Perubahan primer fisika kimia perairan dapat berpengaruh terhadap distribusi dan kelimpahan plankton yang merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung kehidupan ikan-ikan di perairan tersebut.  Keberadaan plankton di suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan di perairan tersebut terutama ikan pemakan plankton, karena dalam rantai makanan fitoplankton merupakan perodusen primer.
Intensitas cahaya adalah jumlah cahaya yang terdapat di perairan pada kedalaman dan jangka waktu tertentu.  Fotosintesis oleh fitoplankton sanagt tergantung terhadap adanya cahaya.  Laju fotosintesis akan tinggi bila tingkat intensitas cahaya yang sampai ke suatu sel alga lebih besar daripada suatu intensitas tertentu.  Hal ini berarti bahwa fioplankton yang produktif hanya terdapat dilpisan-lapisan air teratas dimana intensitas cahaya cukup bagi berlangsung proses fotosintesis.
Kecerahan adalah suatu ukuran dimana cahaya dapat menembus ke dalam badan air yang terhalangi oleh adanya partikel koloid yang tersuspensi seperti lumpur, pasir , bahan organik dan mikroorganik termasuk plankton, yang diamati secara visual dengan alat bantu secchi disc.Suhu memegang peranan penting dalam perairan dan merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan organisme perairan termasuk plankton sebab mengatur proses biologi dalam perairan.







V.   PENUTUP
A.      Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum Plankton yaitu pada semua sampel air jenis plankton yang teridentifikas diperolehSynedra ulna, Melosira granulata, Nitzschia valve, Rhizosolenia alata, pada titik dua diperoleh Nitzschia long dan Staurastrum paradoxum, titik empat diperoleh Melosira granulata dan Nitzschia long, titik lima diperoleh Synedra tenera, Synedra tenera, Chaetocerossp., Naviculata maginata dan Nitzschia rectilonga.

B.       Saran
Saran yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya praktikan lebih kompak dalam melakukan praktikum agar peroleh data plankton dengan klasifikasi yang betul.










DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah, R. 2010 Diktat Kuliah Ekologi Lahan Basah. STKIP PGRI
Amelia, Chitra Devi., Hasan, Zahidah., Mulyani, Yuniar., 2012, Distribusi Spasial Komunitas Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan di Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, Jurnal Perikanan dan Kelautan, 3 (4) : 302.
Campbell, 2002. Biologi Edisi Ke Lima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Dharmawan, A. dkk. 2004. Common Textbook Ekologi Hewan. Universitas Negeri Malang. Malang
Evanulya. S 2010. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Zooplankton Di Kolam Jorong Barutama Greston Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut. Universitas Lambung Mangkurat.

Ferianita Fachhrul, M. 2006. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta
Kimball, W.J., 2002. Biologi Edisi Ke Lima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Nybakken, James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta Gramedia
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Nontji, A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press. Jakarta.

Odum, E. 1996. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Susilowati, Ari., Wiryanto.,  Rohimah, Ainur, 2001, Kekayaan Fitoplankton dan Zooplankton pada Sungai-sungai  Kecil di Hutan Jobolarangan, Biodiversitas, 2 (2) : 129.




0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda