![]() |
IDENTIFIKASI
JENIS-JENIS ZOOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI TANJUNG TIRAM DESA TANJUNG TIRAM
KECAMATAN MORAMO UTARA KABUPATEN KONAWE SELATAN SULAWESI TENGGARA.
Proposal Penelitian
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memenuhi Tugas
Final Mata Kuliah Metode Penelitian
OLEH :
DAFID PRATAMA
F1D1 12 002
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
B.
Rumusan
Masalah
Masalah
yang dikaji pada penelitian ini adalah bagaimana mengidentifikasi jenis zooplankton
di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara
Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara ?
C.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis zooplankton di perairan pantai
Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe
Selatan, Sulawesi Tenggara.
D.
Manfaat
Penelitian
Manfaat
dari penelitian ini adalah memberikan informasi mengenai jenis-jenis zooplankton
di perairan pantai Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara
Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Defenisi Zooplankton
Zooplankton, disebut
juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang
dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya
sangat ditentukan ke mana arus membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik,
yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan
inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya is sangat
bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi
zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen bahan organik (Odum, 1996).
Ukurannya yang paling
umum berkisar 0,2 – 2 mm, tetapi ada juga yang berukuran besar misalnya
ubur-ubur yang bisa berukuran sampai lebih satu meter. Kelompok yang paling
umum ditemui antara lain kopepod (copepod),
eufausid, misid (mysid), amfipod (amphipod), kaetognat (chaetognath).Zooplankton dapat
dijumpai mulai dari perairan pantai, perairan estuaria di depan muara
sampai ke perairan di tengah samudra, dari perairan tropis hingga ke
perairan kutub. (Amelia, dkk., 2012).
Menurut Nybakken
(1992), berdasarkan bentuk hidupnya plankton dibagi menjadi dua golongan yaitu
fitoplankton (plankton nabati) dan zooplankton (plankton hewani). Fitoplankton
mempunyai sifat autotrof yang mampu merubah bahan anorganik menjadi bahan organik
dan penghasil oksigen yang sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk
hidup yang lebih tinggi tingkatannya . Sedangkan zooplankton tidak dapat
memproduksi zat-zat organik dari zat-zat anorganik. Zooplankton bersifat
herbivore dan karnivor. Zooplankton yang bersifat herbivor akan memakan
fitoplankton, sedangkan zooplankton yang bersifat karnivor memakan zooplankton
herbivor.
B.
Klasifikasi
Zooplankton
Berdasarkan
daur hidupnya zooplankton dibagi menjadi 3 kelompok menurut (Nontji, 2008)
yaitu:
a. Holoplankton
Plankton yang seluruh daur hidupnya
dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Contohnya
Kopepoda, Amfipoda, dan lain-lain.
b. Meroplankton
Plankton dari golongan
ini menjalani kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur
hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja, beranjak
dewasa ia akan berubah menjadi nekton. Contohnya kerang dan karang.
c. Tikoplankton
Tikoplankton
sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya
hidup di dasar laut sebagai bentos. Namun karena gerakan air ia bisa terangkat
lepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton.
Contohnya kumasea (Nontji, 2008).
Berdasarkan siklus hidupnya plankton
dapat dibagi menjadi dua yaitu holoplankton dan meroplankton. Holoplankton
adalah plankton yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik, sedangkan
meroplankton adalah plankton yang hanya sebagian dari daur hidupnya yang
bersifat planktonik dan terdiri dari berbagai larva hewan laut dan pada stadium
dewasa hidup sebagai benthos atau nekton (Susilowati, dkk., 2001).
D. Reproduksi dan Siklus Hidup Zooplankton
Reproduksi
antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan
jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan
Ostracoda. Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6
fase naupli dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli
pertama terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam fase
kopepodit dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan
temperatur) dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam
tahun yang sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Campbell, 2002).
Nybaken (1992) menyatakan
pada estuaria, sekitar 50-60 % persen produksi bersih fitoplankton dimakan oleh
zooplankton. Pada dasarnya hampir semua fauna akuatik muda yang terdapat pada
ekosistem mangrove, dikategorikan sebagai zooplankton. Usia muda dari fauna
akuatik (larva) sebagian besar berada di ekosistem mangrove. Dan larva
dikategorikan sebagai zooplankton, karena termasuk fauna yang pergerakannya
masih dipengaruhi oleh pergerakan air, sebagaimana pengertian dari plankton itu
sendiri. Oleh karena itu juga Tait (1987) mengkategorikan Gastropoda, Bivalva,
telur ikan, dan larva ikan kedalam zooplankton.
Reproduksi
antara zooplankton crustacea pada umumnya unisexual melibatkan baik hewan
jantan maupun betina, meskipun terjadi parthenogenesis diantara Cladocera dan Ostracoda.
Siklus hidup copepoda Calanus dari telur hingga dewasa melewati 6 fase naupli
dan 6 fase copepodit. Perubahan bentuk pada beberapa fase naupli pertama
terjadi kira-kira beberapa hari dan mungkin tidak makan. Enam pase kopepodit
dapat diselesaikan kurang dari 30 hari (bergantung suplai makan dan temperatur)
dan beberapa generasi dari spesies yang sma mungkin terjadi dalam tahun yang
sama (yang disebut siklus hidup ephemeral) (Kimball, 2002)
E. Komposisi dan
Kelimpahan Zooplankton
Komposisi jenis zooplankton
sangat bervariasi di berbagai wilayah laut. Bagian terbesar dari organisme
zooplankton adalah anggota filum Arthropoda dan hampir semuanya termasuk kelas
Crustacea. Holoplankton yang paling umum ditemukan di laut adalah Copepoda.
Copepoda merupakan zooplankton yang mendominasi di semua laut dan samudera,
serta merupakan herbivora utama dalam perairan-perairan bahari dan memiliki
kemampuan menentukan bentuk kurva populasi fitoplankton. Copepoda berperan
sebagai mata rantai yang amat penting antara produksi primer fitoplankton
dengan para karnivora besar dan kecil (Nybakken,1992).
Beberapa
waktu setelah populasi maksimum fitoplankton berlalu. Selain itu terdapat pula
teori yang menerangkan terjadinya hubungan terbalik antara zooplankton dan
fitoplankton, teori ini dikenal dengan “Theory of Grazing” yaitu dimakannya
fitoplankton oleh zooplankton yang dikemukakan oleh Harvey et. al (1935). Bila
populasi zooplankton meningkat, pemangsaan fitoplankton akan sedemikian
cepatnya sehingga fitoplankton tidak sempat membelah diri, jika jumlah
zooplankton menurun dan menjadi sedikit maka hal ini memberi kesempatan kepada
fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga menghasilkan konsentrasi
yang tinggi (Evanulya, 2010).
F. Peran
Zooplankton
Dalam hubungannya dengan rantai
makanan, terbukti zooplankton merupakan sumber pangan bagi semua ikan pelagis ,
oleh karena itu kelimpahan zooplankton sering dikaitkan dengan kesuburan
perairan (Arinardi, et all 1997). Dalam rantai makanan, fitoplankton dimakan oleh
hewan herbivora yang merupakan konsumen pertama. Konsumen pertama ini pada
umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa pula oleh oleh hewan
karnivora yang lebih besar sebagai konsumen kedua. Demikianlah seterusnya
rangkaian karnivora memangsa karnivora lain (Nontji, 1987). Sebagai herbivora
primer di ekosistem perairan, peranan zooplankton sangat penting artinya karena
dapat mengontrol kelimpahan fitoplankton. Dengan demikian zooplankton berperan
sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil
(Nybakken, 1992). Struktur komunitas dan pola penyebaran zooplankton dapat
dijadikan sebagai salah satu indikator biologi dalam menentukan perubahan
kondisi perairan.
Campbell (2002) menjelaskan bahwa
zooplankton yang meliputi semua hewan yang umumnya renik adalah bersifat
herbivora yang memakan fitoplankton. Hampir seluruh zooplankton sangat
tergantung pada fitoplankton dan pada trophic level zooplankton menempati
tingkat kedua setelah fitoplankton . Dalam rantai makanan, fitoplankton dimakan
oleh hewan herbivora yang merupakan konsumen pertama. Konsumen pertama ini pada
umumnya berupa zooplankton yang kemudian dimangsa pula oleh oleh hewan
karnivora yang lebih besar sebagai konsumen kedua. Demikianlah seterusnya
rangkaian karnivora memangsa karnivora lain (Nontji, 1987).
Sebagai herbivora primer di
ekosistem perairan, peranan zooplankton sangat penting artinya karena dapat
mengontrol kelimpahan fitoplankton. Dengan demikian zooplankton berperan
sebagai mata rantai antara produsen primer dengan karnivora besar dan kecil
(Nybakken, 1992). Struktur komunitas dan pola penyebaran zooplankton dapat
dijadikan sebagai salah satu indikator biologi dalam menentukan perubahan
kondisi perairan.
III. METODE PENELITIAN
A.
Waktu dan Tempat Penelitian
Pengambilan
sampel berlokasi di perairan pantai
Tanjung Tiram Desa Tanjung Tiram Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe
Selatan, Sulawesi Tenggara dilakukan pada hari Minggu 4 Mei 2014 dan identifikasi
zooplankton dilakukan pada hari Kamis 8 Mei 2014 di Laboratorium Unit
Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Universitas Halu Oleo, Kendari.
B.
Alat dan Bahan
1.
Alat
Alat
yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Alat yang
digunakan pada penelitian Identifikasi
Jenis Plankton
di perairan pantai Tanjung Tiram.
|
No.
|
Nama Alat
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Botol roll film
|
Sebagai wadah tempat menyimpan sampel
|
|
2.
|
Label
|
Untuk menandai sampel
|
|
3.
|
Plankton net
|
Untuk menyaring air laut
|
|
4.
|
Ember
|
Sebagai wadah untuk mengambil air
|
|
5.
|
Kaca objek
|
Sebagai media pengamatan
|
|
6.
|
Kaca penutup
|
Sebagai penutup sampel pengamatan
|
|
7.
|
Pipet tetes
|
Untuk mengambil sampel air
|
|
8.
|
Kamera
|
Untuk mengambil gambar
|
|
9.
|
Tissue
|
Untuk membersihkan kaca objek dan penutup
|
2.
Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan yang
digunakan pada praktikum Identifikasi
Jenis Plankton
di perairan pantai Tanjung Tiram.
|
No.
|
Nama Alat
|
Kegunaan
|
|
1.
|
Plankton
|
Sebagai bahan pengamatan
|
|
2.
|
Lugol
|
Untuk mematikan plankton
|
|
3.
|
Aquades
|
Untuk membersihkan kaca objek dan penutup
|
C.
Prosedur
Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode deskriptif eksploratif, dimana metode deskriptif adalah
metode yang berusaha membuat pencandraan secara sistematis, faktual, dan akurat
terhadap kejadian atau tentang populasi tertentu pada wilayah dimana salah satu
cirinya adalah membuat perbandingan dan evaluasi.
Metode deskriptif digunakan karena
penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan struktur komunitas zooplankton
pada perairan Tanjung Tiram. Sementara itu metode eksploratif adalah metode
yang bertujuan untuk menggali secara luas tentang sebab atau hal yang
mempengaruhi terjadinya sesuatu . Metode ini dipakai karena penelitian
dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis zooplankton di perairan Tanjung Tiram
terhadap ketersediaan organisme lain. Data yang didapatkan berupa data jumlah
dan genus zooplankton pada stasiun yang berbeda. Data yang didapat
dideskripsikan dalam bentuk tabel dan grafik sedangkan analisa data yang
dilakukan meliputi Kelimpahan.
a) Metode Penentuan Lokasi Penelitian
b) Metode
yang digunakan dalam penentuan lokasi sampling adalah purposive sampling
method yaitu mengambil beberapa lokasi dengan pertimbangan
keadaan lingkungan yang ada di lapangan dengan kelompok kunci yang
mewakili keseluruhan). Penentuan lokasi sampling menggunakan metode ini
karena penelitian zooplankton dilakukan untuk mengetahui kelimpahan zooplankton
di perairan Tanjung tiram, sehingga lokasi penelitian dibagi menjadi lima
stasiun ( Stasiun I, Stasiun II, Stasiun III, Stasiun IV, Stasiun V ) dengan
masing-masing stasiun yang dirancang menggunakan sistem informasi geografis utara
stasiun I , timur stasiun II, dan selatan stasiun III, barat stasiun IV, dan
tengah Stasiun V dengan masing-masing stasiun memiliki tiga titik sampel.
b). Metode Pengumpulan Data.
Metode pengumpulan data zooplankton
dalam penelitian ini menggunakan sample survey method, yaitu metoda
pengumpulan data yang mencatat sebagian kecil populasi atau sample namun
hasilnya diharapkan dapat menggambarkan sifat populasi dari obyek penelitian.
Pada tahap
pengambilan sampel digunakan pengambilan air sampel yang diambil sebanyak 50
liter menggunakan bak plastik yang memiliki volume 10 liter sebanyak 5 kali.
Air disaring menggunakan plankton net
dengan ukuran 100 µm dan akan ditampung ke dalam wadah penampung yang memiliki
volume 1 liter. Hasil penyaringan diambil 200 ml untuk dijadikan sampel dan
diberi formalin 4% sebanyak 1 ml.
c) Pengambilan Contoh Zooplankton
Waktu
pengambilan sampel dilakukan satu kali pada masing-masing stasiun yaitu pada
siang hari (dengan pertimbangan untuk mewakili kondisi normal peraiaran pada
saat proses fotosintesis terjadi). Sampel zooplankton diambil dengan cara
menggunakan bak plastik sebagai media sementara guna menampung air sampel
zooplanktoon sehingga mempermudah pengambilan sampel zooplankton dengan
menggunakan planktonnet yakni tahap
pengambilan sampel dengan menggunakan bak plastik dilakukan pengambilan air
sampel secara horizontal ketika berada di atas kapal laut dan kemudian setelah
sampel yang telah ditampung dalam bak plastik di saring menggunakan planktonnet dengan prosedur
penyaringan menggunakan planktonnet untuk mengambil sampe zooplankton sebanyak
tiga kali pada masing-masing stasiun guna untuk mendapatkan sampel zooplankton
yang ingin di identifikasi. Selanjutnya sampel yang telah diambil dimasukan
kedalam botol sampel lalu diberi larutan formalin 4% yang di encerkan dari
formalin dengan konsentari 40% untuk mengawetkan sampel zooplankton.
d. Identifikasi
Jenis Zooplankton
Identifikasi di lakukan
di laboratorium Jurusan Perikanan Universitas Nusa Cendana Kupang. Tahap
identifikasi sampel dilakukan dengan bantuan mikroskop perbesaran
100x dan sedwick rafter yang
mempunyai panjang 50 mm, lebar 20 mm, dan tinggi 10 mm sehingga volumenya 1000
mm3..
Sampel
zooplankton diambil dengan menggunakan pipet sebanyak 1 ml .Masing-masing
sampel setiap stasiun diambil 3 kali untuk diamati. Sampel kemudian diamati
jumlah dan diidentifikasi genusnya. Dengan segala keterbatasan yang ada dan
tingkat ketelitian alat maka identifikasi zooplankton hanya dilakukan
sampai genus.
Identifikasi
zooplankton dilakukan dengan mengacu pada Sachlan (1982), Newell dan
Newell (1977), Hutabarat dan Evans (1986). Nilai kelimpahan zooplankton
dihitung berdasarkan odum (1998). Selanjutnya menurut Yamaji (1976), Hutabarat
dan Evans (1988), untuk mengidentifikasi zooplankton juga dilakukan analisis
menggunakan mikroskop yang meliputi identifikasi dan penghitungan kelimpahan
zooplankton yang dinyatakan dalam satuan ind/m3.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil
Penelitian
Hasil
penelitian Identifikasi Jenis Zooplankton di Perairan Pantai Tanjung Tiram
dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil
penelitian Keanekaragaman Jenis Zooplankton di Perairan Pantai Tanjung Tiram
|
No
|
Gambar pada Stasiun I
|
Klasifikasi
|
|
1
|
![]() |
Kingdom : Protista
Phylum : Bacillariophyta
Classis : Pennatophyceae
Ordo
: Araphnalis
Familia : Fraggilariaceae
Genus :
Synedra
Species : Synedra ulna
|
|
2
|
![]() |
Kingdom : Protista
Phylum : Chrysophyta
Classis : Bacillarioceae
Ordo
: Centraless
Familia : Nitzchiaceae
Genus : Melosira
Species : Melosira granulata
|
|
3
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Familia : Bacillariaceae
Genus :
Nitzschia
Species
: Nitzschia valve
|
|
4
|
![]() |
Kingdom : Plantae
Phylum : Bacillariophyta
Classis :
Bacillarophyceae
Ordo
: Centrales
Familia : Rhizisoleniaceae
Genus :
Rhizosolenia
Species : Rhizosolenia alata
|
|
No
|
Gambar pada Stasiun II
|
Klasifikasi
|
|
1
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Familia : Bacillariaceae
Genus :
Nitzschia
Species
: Nitzschia long
|
|
2
|
![]() |
Kingdom : Animalia
Phylum : Charophyta
Classis : Charophyceae
Ordo : Zygnematales
Familia : Desmidiaceae
Genus : Staurastrum
Specieskkk:Staurastrum
paradoxum
|
|
No
|
Gambar pada Stasiun III
|
Klasifikasi
|
|
1
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Centrales
Familia : Biddulphiineae
Genus : Chaetoceros
Species : Chaetocerosdecipiens
|
|
2
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Familia : Bacillariaceae
Genus :
Nitzschia
Species
: Nitzschia fasciculata
|
|
No
|
Gambar pada Stasiun IV
|
Klasifikasi
|
|
1
|
![]() |
Kingdom : Protista
Phylum : Chrysophyta
Classis : Bacillarioceae
Ordo
: Centraless
Familia : Nitzchiaceae
Genus : Melosira
Species : Melosira granulata
|
|
2
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Familia : Bacillariaceae
Genus :
Nitzschia
Species
: Nitzschia long
|
|
No
|
Gambar pada Stasiun V
|
Klasifikasi
|
|
1
|
![]() |
Kingdom : Protista
Phylum : Bcillariophyta
Classis : Pennatophyceae
Ordo
: Araphnalis
Familia : Fraggilariaceae
Genus :
Synedra
Species : Synedra tenera
|
|
2
|
![]() |
Kingdom : Protozoa
Phylum : Myzozoa
Classis : Dinophyceae
Ordo
: Gonyaulacales
Familia : Ceratiaceae
Genus : Ceratium
Species : Ceratium falcatum
|
|
3
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Centrales
Familia : Biddulphiineae
Genus : Chaetoceros
Species : Chaetocerossp.
|
|
4
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Naviculales
Familia : Naviculaceae
Genus : Navicula
Species
: Naviculata maginata
|
|
5
|
![]() |
Kingdom : Chromalveolata
Phylum : Heterokontophyta
Classis : Bacillariophyceae
Ordo
: Bacillariales
Familia : Bacillariaceae
Genus :
Nitzschia
Species
: Nitzschia rectilonga
|
B. Pembahasan
Plankton
adalah organisme
mikro yang keberadaannya
dalam
lingkungan perairan
sangat penting karena
sebagai produser
primer,
plankton akan menghasilkan karbohidrat yang menjadi makanan konsumen
primer dan menjadi dasar
rantai
makanan. Aktivitas fotosintesis
yang
dilakukan
plankton akan menghasilkan
karbohidrat
dan oksigen,
sehingga dapat
meningkatkan kelarutan
oksigen dalam perairan.
Plankton
sebagai penyumbang terbesar kelarutan oksigen
pada lingkungan perairan
keberadaannya sangat penting
untuk menunjang kehidupan dalam
air.
Plankton adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam
air dan mempunyai kemampuan renang yang sangat lemah sehingga pergerakannya
selalu dipengaruhi oleh gerakkan massa air.
Plankton dapat dibedakan dalam dua golongan besar yaitu fitoplankton dan
zooplankton. Fitoplankton (Plankton nabati) merupakan tumbuhan yang amat banyak
ditemukan di semua perairan, tetapi karena ukurannya mikroskopis yang amat
sukar dilihat kehadirannya. Zooplankton
(Plankton hewani) merupakan jenis plankton yang terdiri sangat banyak jenis
hewan. Ukurannya lebih besar dari
fitoplankton.Ceratium
falcatum,Chaetoceros decipiens, Nitzschia fasciculata
Fitoplankton sebagai tumbuhan yang mengandung pigmen klorofil mampu
melaksanakan reaksi fotosintesis di mana air dan karbon diokasida dengan adanya
sinar surya dan garam-garam hara dapat menghasilkan senyawa organik seperti
karbohidrat. Karena kemampuan membentuk zat organik dari zat anorganik maka
fitoplankton disebut sebagai produsen primer (primary producer). Dalam rantai makanan (food chain), fitoplankton akan dimakan oleh hewan herbivor yang
merupakan produsen sekunder (secondary
producer).
Penelitian Identifikasi
Plankton yang dilaksanakan di Perairan Pantai Tanjung Tiram, dilakukan
pengambilan sampel di tiga titik berbeda, yaitu titik satu, titik dua dan titik
tiga dengan kedalaman dan tingkat kecerahan yang berbeda.Hasil pengamatan diperoleh
kelimpahan jenis plankton pada titik satu diantaranya Synedra ulna, Melosira
granulata, Nitzschia valve, Rhizosolenia alata. Titik dua
diperoleh Nitzschia long dan Staurastrum
paradoxum, serta pada titik tiga diperoleh Ceratium
falcatum,Chaetoceros decipiens, Nitzschia fasciculata, titik
empat diperoleh Melosira granulata dan Nitzschia long, titik lima
diperoleh Synedra tenera, Synedra tenera, Chaetocerossp., Naviculata maginata dan Nitzschia rectilonga.
Berbagai macam faktor kimia dan fisika dapat mempengaruhi pertumbuhan,
kelangsungan hidup dan produktifitas tumbuhan teresterial. Faktor-faktor
penting yang sangat kritis bagi tumbuhan teresterial adalah cahaya, suhu, kadar
zat-zat hara, tanah dan air. Suatu tumbuhan yang hidup tersuspensi dalam air,
baik air maupun tanah tidak penting artinya. Kisaran suhu di biosfer
teresterial dapat mencapai suatu tingkat yang dapat memproduksi tumbuhan.
Sebaiknya kisaran suhu dalam lingkungan hidup bahari selalu berlangsung secara
bertahap dari sifat-sifat fisik air.
Perubahan primer fisika kimia perairan dapat berpengaruh terhadap
distribusi dan kelimpahan plankton yang merupakan salah satu faktor penting
untuk mendukung kehidupan ikan-ikan di perairan tersebut. Keberadaan plankton di suatu perairan sangat
berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan di perairan tersebut terutama ikan
pemakan plankton, karena dalam rantai makanan fitoplankton merupakan perodusen
primer.
Intensitas cahaya adalah jumlah cahaya yang terdapat di perairan pada
kedalaman dan jangka waktu tertentu.
Fotosintesis oleh fitoplankton sanagt tergantung terhadap adanya
cahaya. Laju fotosintesis akan tinggi
bila tingkat intensitas cahaya yang sampai ke suatu sel alga lebih besar
daripada suatu intensitas tertentu. Hal
ini berarti bahwa fioplankton yang produktif hanya terdapat dilpisan-lapisan
air teratas dimana intensitas cahaya cukup bagi berlangsung proses fotosintesis.
Kecerahan adalah suatu ukuran dimana cahaya dapat menembus ke dalam
badan air yang terhalangi oleh adanya partikel koloid yang tersuspensi seperti
lumpur, pasir , bahan organik dan mikroorganik termasuk plankton, yang diamati
secara visual dengan alat bantu secchi
disc.Suhu memegang peranan penting dalam perairan dan merupakan faktor
pembatas bagi pertumbuhan organisme perairan termasuk plankton sebab mengatur
proses biologi dalam perairan.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum Plankton yaitu pada
semua sampel air jenis plankton yang teridentifikas diperolehSynedra ulna, Melosira
granulata, Nitzschia valve, Rhizosolenia alata, pada titik
dua diperoleh Nitzschia long dan Staurastrum paradoxum, titik
empat diperoleh Melosira granulata dan Nitzschia long, titik lima
diperoleh Synedra tenera, Synedra tenera, Chaetocerossp., Naviculata maginata dan Nitzschia rectilonga.
B. Saran
Saran
yang dapat saya ajukan pada praktikum kali ini adalah sebaiknya praktikan lebih
kompak dalam melakukan praktikum agar peroleh data plankton dengan klasifikasi
yang betul.
DAFTAR
PUSTAKA
Adawiyah, R. 2010 Diktat Kuliah Ekologi Lahan Basah. STKIP PGRI
Amelia, Chitra Devi., Hasan,
Zahidah., Mulyani, Yuniar., 2012, Distribusi Spasial Komunitas Plankton sebagai
Bioindikator Kualitas Perairan di Situ Bagendit Kecamatan Banyuresmi Kabupaten
Garut Provinsi Jawa Barat, Jurnal
Perikanan dan Kelautan, 3 (4) :
302.
Campbell, 2002. Biologi Edisi Ke Lima
Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Dharmawan, A. dkk. 2004. Common Textbook
Ekologi Hewan. Universitas Negeri Malang. Malang
Evanulya.
S 2010. Keanekaragaman dan Kemelimpahan Zooplankton Di Kolam Jorong Barutama
Greston Kecamatan Jorong Kabupaten Tanah Laut. Universitas Lambung Mangkurat.
Ferianita Fachhrul, M. 2006. Metode Sampling Bioekologi, Bumi Aksara, Jakarta
Kimball,
W.J., 2002. Biologi Edisi Ke Lima Jilid 2. Erlangga. Jakarta.
Nybakken,
James W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta Gramedia
Nontji, A. 1987. Laut Nusantara.
Djambatan. Jakarta.
Nontji,
A. 2008. Plankton Laut. LIPI Press. Jakarta.
Odum, E. 1996. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Susilowati,
Ari., Wiryanto., Rohimah, Ainur, 2001, Kekayaan
Fitoplankton dan Zooplankton pada Sungai-sungai
Kecil di Hutan Jobolarangan, Biodiversitas,
2 (2) : 129.

















0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda